Mengenang Kembali 13 Tahun Tragedi Trisakti Bersimbah Darah

Posted by Admin | , ,

setelah 12 tahun berlalu Pelaku penembakan 6 Mahasiswa Belum tertangkap juga ! dan Pelaku pemerkosaan juga belum tertangkap ! 

Kronologis kejadian trisakti bersimbah darah...........

Setelah enam mahasiswa tewas di Universitas Trisakti, kerusuhan melanda Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Mengapa mahasiswa yang sudah berada di dalam kampus harus ditembak


Selasa, 12 Mei 1998, sekitar pukul 10.15, mahasiswa Trisakti mulai menggelar aksi keprihatinan dengan mengadakan mimbar bebas di dalam kampus. Yang mereka suarakan adalah reformasi politik dan ekonomi, di antaranya penurunan harga-harga. Mahasiswa juga meminta Presiden Soeharto mundur dari jabatan presiden.

Semakin siang, mahasiswa yang mengikuti mimbar bebas semakin banyak. Memasuki tengah hari, sekitar 5.000 mahasiswa memadati lapangan parkir Trisakti itu. Tepat pukul 12.00, mahasiswa berniat mengadakan long march ke Kantor DPR/MPR di Senayan. Namun baru sekitar 100 meter keluar dari kampus, aparat keamanan menghalangi mereka.

Setelah negosiasi gagal, akhirnya para mahasiswa itu memilih aksi duduk, dan aparat bersedia mundur sedikit. Dan barisan sepanjang 500 meter yang memanjang dari depan Kampus Trisakti hingga Kantor Walikota Jakarta Barat ini mulai menggelar mimbar bebas. Mereka mengisi acara itu dengan orasi, baca puisi dan aksi simpatik beberapa mahasiswi yang membagi-bagikan bunga kepada para polisi yang berjaga. Tak ada ketegangan yang kelihatan saat itu.

Aksi mimbar bebas yang diikuti mahasiswa, dosen dan alumni Trisakti itu berjalan sekitar lima jam dengan damai, tanpa lemparan batu sekali pun. Juga ketika Adi Andojo SH, mantan salah satu Ketua Mahkamah Agung yang kini mengajar di Trisakti itu ikut berbicara di mimbar bebas. Komandan Kodim dan Kepala Polisi Resort yang juga berbicara dan meminta mahasiswa untuk kembali ke kampus, pada mulanya tak berhasil membawa mahasiswa balik ke kampus.

Sekitar pukul 16.30, mahasiswa sepakat dengan permintaan aparat keamanan untuk mundur ke dalam kampus. Ketika itulah timbul ketegangan. Mahasiswa mengejek aparat dan rupanya tindakan itu berbalas. Menurut seorang saksi di kalangan mahasiswa, ketika mahasiswa berjalan kembali ke arah kampus, ada kata-kata kotor dan ejekan. "Sepertinya polisi itu sengaja memancing kemarahan mahasiswa," kata sumber ini. Saat itu seseorang berbaju putih, yang mengaku sebagai seorang alumni Trisakti, tiba-tiba lari dari pinggir jalan menuju ke arah polisi. Entah dengan maksud untuk menengahi atau apa, ia berada di antara barisan mahasiswa dengan polisi. Kontan saja mahasiswa menyerbu orang tersebut, begitu juga para polisi. Bentrokan kecil sempat terjadi.

Polisi yang dipimpin Letkol Timor, Kapolres Jakarta Barat, itu mulai bersiap dan mengokang senapan. Mereka mengancam akan menindak mahasiswa jika tidak kembali ke kampus. Ketika mahasiswa mengalah dan berbalik arah, berjalan kembali ke kampus, beberapa saat kemudian mulai terdengar suara letusan senapan. Mendengar suara tembakan itu, mahasiswa panik, dan segera lari kalang kabut menyelamatkan diri. Suasana mencekam dan kacau balau.

Menurut Anto, mahasiswa Ekonomi Trisakti angkatan 96, ia sempat melihat seorang ibu dan anaknya yang masih kecil terjatuh dan terinjak-injak massa. Juga, ia sempat melihat beberapa rekannya yang ditarik dan dibawa aparat (belakangan diketahui, jumlah sementara mahasiswa Trisakti yang hilang saat kerusuhan itu sepuluh orang). Anto juga melihat seorang mahasiswi yang sedang dipukuli oleh polisi dan kemudian juga diinjak-injak. Penembakan terhadap mahasiswa itu berlangsung kurang lebih tiga jam. Sekalipun mahasiswa sudah berada di dalam kampus, tembakan terus dilakukan, entah dari depan kampus atau dari jalan layang di depan kampus.

Akibatnya, enam mahasiswa tewas. Sebanyak 16 orang mahasiswa dan warga masyarakat mengalami luka parah. Baik karena tembakan maupun pukulan, atau terinjak oleh rekan-rekan mereka, saat mereka berlarian menyelamatkan diri ketika dikejar oleh polisi.


Mereka yang tewas adalah Elang Mulya Lesmana (Teknik Arsitektur 96), Heri Hartanto (Teknik Mesin 95), Hendriawan Lesmana (Ekonomi 96), Hafidin Royan (Teknik Sipil), dan Alan Mulyadi. Mereka ada yang tertembak di leher, di kepala, dan juga di dada. Semuanya dengan peluru tajam -- Kapolda Jaya Mayjen Hamami Nata mengatakan bahwa anak buahnya bersenjatakan peluru karet dan peluru hampa. Sementara seorang siswa STM, Samsul Bahri, terpaksa harus langsung dioperasi karena tertembak di perutnya. Menurut saksi mata, korban terluka sangat parah, hingga ususnya keluar.

Dari selongsong peluru yang ditemukan mahasiswa, ada dua tipe selongsong yang berbeda. Yang satu ujungnya bergerigi, dikenal sebagai peluru karet. Sedangkan satunya lagi ketika dicocokkan dengan peluru tajam yang ditemukan masih utuh, ternyata ukurannya sama persis.

Sekitar pukul 23.30, menurut Ewim (Teknik Perminyakan 96), Samsul sudah meninggal. Dua jam sebelumnya, di depan ruang gawat darurat RS Sumber Waras, tampak anggota keluarga korban berkumpul dan bertangisan dengan pilunya. Ibu Elan tampak histeris. "Elan, Ibu di sini. Ibu menjemputmu, Nak," teriak ibu Elan. Menurutnya, Elan adalah anak yang baik. "Elan tidak pernah ikut-ikutan seperti ini," teriak ibu Elan. Sementara di kamar mayat, beberapa mahasiswa Trisakti membaca Al Qur'an bersama-sama. Sementara beberapa anggota keluarga korban meraung menangisi si korban.

"Ini sudah keterlaluan, melihat para polisi menembaki mahasiswa tanpa alasan apa pun dengan membabi buta seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, mereka itu manusia atau iblis," ujar Andre Moedanton, 42 tahun, yang menjadi dosen seni rupa di Trisakti. Andre kebetulan ada di tempat kejadian ketika penembakan terhadap mahasiswa itu terjadi.

Andre yang juga putra Rektor Universitas Trisakti itu, sebelum penembakan sempat tampil ke mimbar membacakan puisi yang isinya menyinggung kesengsaraan rakyat akibat krisis ini. "Sekitar pukul lima sore, mahasiswa memutuskan untuk bubar. Mereka menarik diri dengan damai, masuk ke dalam kampus. Tetapi ketika para mahasiswa itu berjalan masuk ke dalam kampus, tanpa alasan yang jelas, tanpa ada satu pun lemparan batu ke arah aparat polisi, secara tiba-tiba puluhan polisi yang berada di atas jalan layang melepaskan tembakan secara bersamaan ke arah massa."

Menurutnya, tembakan dari depan kampus Trisakti itu segera diikuti dengan tembakan aparat dari arah Timur dan Barat. Sehingga massa terkepung dan panik menyelamatkan diri masuk ke dalam kampus. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, dengan raut wajah bingung, Andre bilang,"Mahasiswa melakukan aksinya dengan damai, mereka tidak bersenjata sama sekali, bahkan tidak punya batu. Kenapa para polisi itu menembaki mahasiswa?"

Menurut Anto, 21 tahun, mahasiswa Ekonomi Trisakti 96, ia berada di barisan depan massa ketika pecah penembakan, dan ia lari menyelamatkan diri ke Kantor Walikota Jakarta Barat. Ada sekitar 70 orang mahasiswa lain bersamanya di situ. Ia yakin, sebagian besar korban jatuh ditembak saat mereka berada di dalam kampus.

Kabarnya, menurut sumber-sumber TEMPO Interaktif, polisi itu menembaki sambil berkata-kata dengan marah,"Jangan sekali-kali berani turun ke jalan, karena kami akan membunuh kalian." Kawanan polisi lainnya berkata,"Kami akan terus menembaki dan mengurung kalian hingga jam 24.00". Kata-Kata kotor atau makian juga terdengar, seperti,"Mahasiswa anjing, mampus kalian." Tampaknya, dalam urusan maki-memaki ini, terjadi perang mulut antara aparat dengan mahasiswa.

Setelah berada di dalam kampus Trisakti, ternyata para mahasiswa itu belumlah aman. Belum sempat mereka istirahat, di Plaza Trisakti yang terletak di tengah-tengah kampus, tiba-tiba mereka ditembaki oleh penembak yang diperkirakan berasal dari atas gedung baru Trisakti yang belum selesai dibangun. Yang tidak dimengerti oleh mahasiswa dan para dosen adalah, mengapa penembakan itu bisa berlangsung selama hampir tiga jam, tanpa ada perintah untuk menghentikannya.

Ada dugaan sementara bahwa hal ini mungkin berkaitan dengan dibunuhnya seorang intel polisi oleh mahasiswa di kampus Universitas Djuanda, Ciawi, beberapa hari sebelum kejadian naas ini. Banyak mahasiswa menduga bahwa penembakan terhadap mereka ini sudah direncanakan oleh kepolisian. Dalam peristiwa ini tidak ada aparat militer selain polisi yang terlibat.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya hanya berdiri. Dan tiba-tiba saya tertembak di leher saya," cerita Yudha Yulianto, salah satu korban. Di sampingnya, Aleksander yang juga mahasiswa, mengaku hal yang sama. Dia hanya berdiri saja, dan tahu-tahu kakinya tertembak.

Yang menjadi korban bukan hanya mahasiswa. Menurut Misdiono, saudara Samsu Bahri, ada dua warga non kampus juga tertembak. "Saya melihat salah satunya tertembak di punggung," katanya.

Insiden ini memang brutal. Padahal, menurut Adi Andojo, proses demonstrasi berjalan dengan damai. Mahasiswa menggelar aksi tanpa persiapan senjata seperti batu atau pun tongkat. Dalam aksi tersebut tidak terlihat lemparan batu ke arah petugas keamanan.

Setelah aksi selesai dan mahasiswa telah bubar, mantan hakim agung Adi Andojo pulang. Baru beberapa menit dia berada di rumah, dia mendapatkan telepon yang mengatakan bahwa seorang mahasiswa tewas terkena tembakan. Dan satu jam kemudian, dia mendengar kabar lagi bahwa sudah empat mahasiswa tewas. Dia pun segera menuju rumah sakit Sumber Waras. "Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, empat mahasiswa tewas di kamar mayat rumah sakit Sumber Waras," ujar Adi. 

Pihak rektorat sangat menyesalkan insiden ini. Dan Adi mengatakan bahwa pihak rektorat akan mengajukan protes keras kepada Kapolri dan Menteri Pertahanan dan Keamanan. Dia juga mengatakan bahwa pihaknya juga akan segera melaporkan insiden ini kepada Komnas HAM.

Namun, tampaknya dia tidak perlu bersusah payah. Saat dia melakukan konferensi pers, Marzuki Darusman, salah seorang wakil ketua di Komnas HAM telah tiba di sana. Menurutnya, Komnas HAM akan segera melakukan investigasi dalam insiden ini. Namun dia belum bisa memberikan gambaran apa yang akan dilakukan. "Baru akan kami bicarakan dengan pihak rektorat Universitas Trisakti," ujar Marzuki Darusman.

Demonstrasi mahasiswa yang memprotes kematian enam orang itu akhirnya pecah di mana-mana. Di Jakarta, demonstrasi bahkan sudah melibatkan massa tak jelas yang merusak dan mencuri. Dan sampai Jum'at ini (15 Mei 1998), Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, memang lumpuh total.

Belasungkawa dan Amarah Massa

Untuk menghantarkan rekannya yang tewas, ribuan mahasiswa kembali berkumpul di Universitas Trisakti esok harinya. Sejumlah tokoh tampil membawakan orasi di "mimbar duka" depan Gedung Sjarief Thayeb, di Universitas Trisakti, Rabu 13 Mei 1998. Mereka antara lain, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Adnan Buyung Nasution, Kwik Kian Gie, pentolan "Malari" Hariman Siregar, dan sejumlah tokoh lainnya.

Umumnya mereka menyampaikan rasa belasungkawanya terhadap keluarga korban. Kwik Kian Gie yang manggung atas nama yayasan, menegaskan bahwa tragedi Trisakti itu adalah bukti nyata menguatnya budaya kekerasan di kalangan aparat. Namun, ekonom ini menganjurkan agar mahasiswa tidak terpancing dengan kebiasaan tak terpuji itu. Megawati, yang tampil agak garang dari biasanya, mengutuk keras tragedi ini. "Perjuangan kalian akan kami teruskan" sambungnya penuh haru.

Hariman Siregar, yang sempat disuruh turun oleh sejumlah mahasiswa, menegaskan bahwa pemerintah Orde Baru telah melenceng jauh dari kesepakatan awal perjuangannya. Kekerasan di Trisakti itu adalah contoh yang paling aktual, lanjut tokoh Malari ini. Adnan Buyung Nasution, yang datang bersama Hariman Siregar, sangat menyesalkan kenapa mahasiwa selalu menjadi korban dari sebuah perubahan. Pemerintah Orde Baru menurut Buyung lahir karena tetesan darah mahasiwa. "Lalu mengapa diperjalanan orde ini, nyawa mahasiswa terus melayang" tanya Buyung.

Amien Rais, yang dikawal ketat oleh para mahasiswa menegaskan bahwa para korban dalam tragedi itu, mati sebagai suhada. Mereka adalah pahlawan reformasi nasional. Namun menurutnya, perjuangan mereka tidak akan sia-sia. "Darah mereka akan selalu mengobarkan semangat kita", kata Amien. Menurut Amien, dalam kondisi yang kian panas ini, ABRI hanya punya dua pilihan, melindungi satu orang dan keluarganya atau melindungi seluruh bangsa. "Tetapi saya yakin bahwa ABRI akan mempertahankan rakyat, bukan kekuasaan," teriak Amien.

Saat itu, Amin juga sempat mengutip ayat Al Qur’an. Siapa pun yang membunuh seorang manusia, dia sudah seperti membunuh seluruh manusia: barangsiapa melindungi seseorang, dia telah melindungi seluruh manusia. Di akhir orasinya, ketua PP Muhammadiyah ini memberikan semangat kepada mahasiswa. "Lanjutkan demonstrasi dengan damai. Allah akan memberkati perjuangan kita," pekik Amien yang disambut dengan teriakan "Allahu Akbar", oleh mahasiswa. Sebelumnya, Amien juga sempat mengajak semua masyarakat untuk meningkatkan semangat guna menggulingkan kekuasaan yang sewenang-wenang. Usai orasinya itu, Ketua PP Muhammadiyah ini langsung naik ke lantai 12 gedung Syarief Thayeb Trisakti.

Di ruang pertemuan itu telah menanti sejumlah tokoh antara lain, Sarwono Kusumaatmadja, Adnan Buyung Nasution, Arifin Panigoro, Rendra, Hariman Siregar, dan sejumlah tokoh lainnya. Pertemuan ini memang terlihat spontan. Di samping mengecam tindakan aparat terhadap mahasiswa, beberapa tokoh yang berbicara juga sepakat agar aksi keprihatinan mahasiswa harus dilanjutkan. Pada kesempatan itu Rendra juga membacakan puisi secara khusus buat para syuhada tadi.

Pertemuan itu memang tidak berlangsung lama. Karena tuan rumah, Trisakti, akan berangkat ke pemakaman tanah kusir. Sekitar pukul 12.30 WIB, satu per satu tokoh publik ini pergi meninggalkan kampus duka itu. Namun, aktivitas di depan gedung Syarief Thayeb justru tambah marak. Orasi demi orasi terus dilewati. Sesekali terdengar panitia membacakan ucapan belasungkawa yang datang dari berbagai perguruan tinggi, tokoh-tokoh masyarakat, lembaga-lembaga tinggi negara, dan unsur masyarakat lainnya.

Para mahasiswa itu memang sempat terpancing oleh ulah massa yang berkerumun di jalan S Parman depan kampus Trisakti dan massa yang berjubel di Jl. Kyai Tapa. Massa di ruas jalan itu memang melakukan pengrusakan dan pembakaran ban mobil, kertas, dan barang -barang lainnya di tengah jalan. Namun, berkat kesigapan para pemimpin aksi, ribuan mahasiswa itu dapat mengurungkan niatnya. Satgas aksi yang dibentuk secara kilat dari berbagai kampus itu, terlihat sabar meyakinkan kawan-kawannya.

Mereka cukup repot ketika ribuan mahasiswa itu keluar, lantaran truk polisi dari Kodam Jaya yang lewat depan kampus itu menyemprotkan gas air mata. Team medis kampus pun terlihat sibuk membantu ratusan mahasiswa yang terkena gas air mata.

Ketika hari semakin siang, massa di luar kampus semakin banyak. Mereka melemparkan batu ke arah polisi yang bertahan di depan Citra Land, depan kampus Trisakti. Serangan mereka memang semakin ganas. Dan polisi pun, mengokang senapan dan letusan pun terdengar berulang kali.

Akibatnya, hingga saat ini tercatat satu orang meninggal lantaran kesambar truk yang didorong massa. Sebelas orang luka parah terkena tembakan peluru maupun pentungan petugas. Truk yang menabrak orang naas tadi, memang dibakar massa di depan Citra Land dan terus didorong ke arah Jl. Daan Mogot. Truk itu melaju kencang, lantaran pedal gasnya diganjal oleh massa. Para marinir yang berdiri tak jauh dari lokasi itu memang nyaris menjadi korban. Ketika para marinir itu menghindar, penduduk yang berlindung di balik mereka, tak sigap melompat.

Setelah jatuh korban, amarah massa pun semakin tak terkendali. Ribuan massa yang berjubel di Jl. Kyai Tapa, merangsek maju sembari melemparkan batu ke arah polisi. Kenekatan massa di Jl. Kyai Tapa itu, disambut oleh massa yang memadati Jl. Daan Mogot. Mereka membakar mobil-mobil yang nongkrong di parkiran Dan Mogot. Akibatnya, 17 mobil hangus dibakar, dan 11 lainnya hancur diamuk massa. Tidak hanya itu, massa pun menyulutkan api ke pom bensin yang terletak tak jauh dari kampus Trisakti. 


Laporkan Artikel · Kirimkan Umpan Balik

1 komentar

Sabtu, 14 Mei 2011 21.19.00 WIB

wh itu deket dg daerah rumah orang tua saya thuhh,.,

KIRIMKAN KOMENTAR ANDA. NO SPAM!

Komentar terakhir

Copyright© Ladang-Hijau @2010. All Rights Reserved.